SELF DEVELOPMENT

Stereotip Profesi Guru di Indonesia: Jangan Jadi Guru!

Sekolah-sekolah di luar negeri memiliki kualitas pendidikan yang lebih bagus dibandingkan dengan di Indonesia, hal tersebut mempengaruhi stereotip profesi guru pada masyarakat Indonesia. Namun, pendidikan yang berkualitas tentunya tidak datang begitu saja, ada campur tangan orang-orang hebat di belakangnya. Siapakah mereka? Apakah Menteri Pendidikan? Ataukah Presiden? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat data upah guru dari OECD (Organisation for Economic Co-operation Development) di bawah ini:

stereotip profesi guru
sumber: http://www.datawrapper.de

Berdasarkan data tersebut, Indonesia menempati posisi terendah dibanding negara-negara lain. Upah guru di Indonesia sekitar 134 USD, sangat berbanding jauh dengan upah guru di Switzerland yang rata-rata sekitar 67.000 USD. Hal itu setingkat dengan upah direktur yang sudah mempunyai banyak pengalaman kerja. Padahal, jam kerja guru di Switzerland lebih rendah dibandingkan di Indonesia yang tidak hanya mempersiapkan materi pelajaran saja, namun juga memikirkan RPP, Silabus, Prota, Prosem, Media, dan belum lagi harus berhadapan dengan kurikulum yang terus berubah tiap tahun.

Andai guru di Indonesia disayang oleh negara seperti guru di luar negeri

Lalu, bagaimanakah stereotip masyarakat Indonesia terhadap profesi guru? Apakah guru menjadi profesi yang dielu-elukan di kalangan masyarakat Indonesia? Apakah guru benar-benar profesi yang ‘katanya’ pahlawan tanpa tanda jasa?

stereotip profesi guru
sumber: https://twitter.com/tubirfess/status/1308055917921886208

Dilansir dari tangkapan layar di akun twitter menfess @tubirfess, seseorang berkomentar; “Percuma cumlaude kalo lulus jadi guru ?”. Bagaimana jika para guru membacanya? Kesal! itu yang saya rasakan. Stereotip profesi guru yang dibilang bijak, kini malah terdengar seolah-olah guru adalah profesi yang sepele, profesi yang tidak membutuhkan keahlian khusus dalam bidangnya, profesi yang siapa pun bisa mendapatkannya.

Baca juga: Selamat Datang di “The New Normal”

Pada umumnya orang-orang hanya menilai sesuatu dari apa yang mereka lihat saja, tanpa terjun langsung untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga, muncul lah stereotip-stereotip baru di kalangan masyarakat.

Profesi yang Penuh Tantangan

Guru tidak hanya mengajar di kelas, lalu pulang santai menikmati senja dengan secangkir kopi. Miris sekali rasanya, kebanyakan masyarakat kita berpendapat bahwa menjadi Guru adalah hal yang mudah. Berhadapan langsung dengan murid, apa saja tantangan yang dihadapi guru?

  • dituntut untuk memahami keunikan dan psikologis anak; agar tercipta kedekatan antara guru dengan murid, sehingga murid dapat dengan mudah menyerap pelajaran
  • tidak hanya mengajar, namun guru juga mendidik nilai-nilai kehidupan yang akan dibawa hingga murid-muridnya dewasa
  • layaknya selebgram, guru berperan sebagai publik figur yang harus selalu terlihat sempurna, agar dapat digugu dan ditiru

Jadi, masih mau anggap remeh profesi guru?

Penanggungjawab Mimpi Anak Bangsa

Hal yang terjadi saat ini, seringkali orang tua melepas tanggungjawab mereka sepenuhnya terhadap anak kepada sekolah. Orang tua merasa telah membayar biaya sekolah yang (mungkin) tidak murah, dengan harapan anak-anaknya bisa menjadi anak yang pintar, berakhlak, dan menggapai mimpi-mimpinya dengan mudah. Padahal, mestinya pendidikan itu berjalan dua arah, antara guru-murid dan anak-orang tua. Bukan kah orang tua adalah madrasah utama bagi anak?

Baca juga: Quarter Life Crisis is Real

Tidak heran, jika banyak kasus orang tua yang menuntut guru dikarenakan anaknya bermasalah. Walau tidak semua, tapi ada. Seperti, tidak naik kelas contohnya. Bahkan, tidak jarang orang tua yang menyalahkan anaknya ketika nilai pelajarannya jelek. Padahal, mungkin sang anak kebingungan bagaimana mengerti dirinya dalam belajar, dan saat itu lah harusnya peran orang tua bekerja.

Tanpa guru, apakah akan ada profesi dokter, insinyur, penulis, dan profesi lainnya? Seringkali dilupakan, bahwa guru adalah akar dari batang, daun, bunga, dan buah dari ilmu-ilmu yang lain.

Bagaimana Mengubah Stereotip Profesi Guru di Indonesia?

Mungkinkah stereotip profesi guru di Indonesia ini muncul dikarenakan guru adalah profesi yang upah minimumnya paling kecil? Bisa jadi!

Lalu, bagaimana cara mengubah stereotip profesi guru pada masyarakat Indonesia? Stereotip ini akan berubah jika masa depan guru di Indonesia lebih diperhatikan oleh pemerintah. Sehingga, guru menjadi profesi yang paling disegani dan diminati oleh banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *