POEM

Tentang “Ia”

Tentang “Ia”

Ada yang salah padanya, saat ia ingin mulai mendominasi setiap hal yang ada.

Ia menyembunyikan dan berusaha kau abai. Ia terlihat seperti
seolah tidak sedang merahasiakan apa-apa.
Ia menukar ketakutan dan rahasianya
dengan lagak yang lain.
Ia adalah aku.
Ia pernah kecewa dan berulang kali dipatahkan oleh lelaki yang berbeda.
Ia pernah berjuang keras melupakan hingga akhirnya memutuskan untuk tak lagi mencinta.
Ia pernah berpikir unntuk menua sendiri tanpa adanya cinta yang hanya membuat luka.
Hatinya pernah mati dalam jangka waktu yang lama, hingga tak pernah bisa
merasakan apa-apa pada tiap lelaki yang berusaha mendekatinya.

Hatinya pernah tandus, tak satu pun benih asmara bisa tumbuh di dalamya,
karena memang tidak pernah jadi perkara yang mudah untuknya bisa mencinta.
Saat sudah jatuh? Sangat sulit baginya untuk melupa, ia akan memberikan sepenuhnya.
Di saat sudah menahun mati hatinya, dan luka sudah tak lagi ada.
Mengapa Sang Maha Cinta memberikan anugerahnya?
Ia berusaha menolak, ia berusaha menyembunyikan, ia berusaha tidak tahu apa-apa.
Tapi, semakin ia tampik, keberadaan rasa malah semakin nyata.
Ia sempat bergulat dengan dirinya sendiri, hanya karena takut terluka.
Ia terlalu pengecut, ia terlalu rapuh, ia sudah terlalu jatuh dalam cinta.
bagaimana bisa?
Jika rasa ini memang nyata
Maka ajari aku untuk
Tetap melaju
Tanpa terjebak waktu
Tetap berpusar
Tanpa harus terlempar
Tetap mengalir
Tanpa harus berpikir

Mungkin di saat seperti ini, ia baru paham.
Seperti apa bentuk cinta yang menelusup pelan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *