POEM

Identitas Kesepian

Identitas Kesepian
Setiap Orang

Setiap orang memiliki perang yang tak pernah mereka menangkan. Obsesi pada kesendirian terjungkal seimbang. Hari-hari muda penuh label merekayasa struktur waktu. Masa depan menghapus rahasia dan yang autentik dari diri tak pernah ada.

Setiap orang memesan citra diri tiap pekan di penjahit langganan. Usaha memenuhi lemari dengan koleksi kemeja tak pernah berhasil. Sebagai zirah, kemeja ini cukup tebal, tapi terlalu tipis untuk tidur di bawah naungan benda-benda dan pelukan tepuk tangan.

Setiap orang mematahkan hatinya sendiri. Meyakini bahwa kebahagiaan adalah pencarian yang tersembunyi pada babak akhir. Ia membenci masa lalu tapi menceritakannya seperti bagian terbaik yang pernah mereka rayakan. Ia tak tahu, banyak orang mati dan menghabiskan tawa tanpa mengetahui apa definisi kebahagiaan.

Setiap orang tertipu oleh kesetiaan yang diciptakan untuk menipu diri sendiri. Begitu banyak yang tenggelam di permukaan. Sementara inti kehidupan yang tersisa hanya kedangkalan-kedangkalan yang direhabilitasi rahasia.

Tentang Rasa

Tentang rasa yang kerap kali kau banggakan identitasnya tak pernah dusta, hadir paling pertama mengisi celah yang kau anggap bahagia. Kau dusta.

Rasa adalah bahasa asing yang diterjemahkan seorang martir melalui asisten google.

“Aku melihat gambar yang gagu: kenangan”
Pejam mata berkuasa atas reaksi hati yang resah. Kondisi lain dari terjaganya kemalasan yang bertugas mangalirkan pikiran-pikiran liar. Tentang milik dan apriori sepi.

Tak usah menyalak. Segala kembali melambat renyuh tenggelam mengatup hingga tertelan ramai.
Dan kau? Kau masih sibuk mencari maksud dari bunyi yang kau kira melesat begitu kencang namun ternyata padam.

Rasa ternyata dapat dimakan seperti sarapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *